A Distraction Before Final Test; "I'm Having Fun With Rage Thread FFFUUUUUUUUAHAHAHA."
Friday, 14 May 2010
My favorites;




And here they are, my own rageworks hahaha!!!! ;

Well it's sort of a happiness though :) :DDDDDDD
My favorites;




And here they are, my own rageworks hahaha!!!! ;

Well it's sort of a happiness though :) :DDDDDDD

“The art of mothering is to teach the art of living to the children.” (Elaine Heffner)
There’s a time when you are forced to press the backward button on your life tapes. Then, there’s a time when this growing emphasis leads us to turn back into the latest remembrance of your childhood time, and when you already felt that it was the longest-time-ago of your memorial incidence that you ever really tried to remember about, a figuring sketch in my mind is always about the time when me and her went to the branch of Indonesia Red Cross in one city where I was born and grew up there, and found myself was injected by a needle around my middle finger. I forgot in what age it was but taken by the result, it was determined that we both had the same blood type despite of the other family members. That was the first time that I knew the word of similarity.
Undeniably, if you could give me a question about whom I stay on this until today is for, I will nail the answer that it is for her. Yes, someone who I may not talk in harsh manner with when the fight starts because if I do, it will only be broken to the pieces but never get the problem solved. Regrettably, I often do that.
She is the one whose face will never be agreed to be as same as mine by people. The most recognizable thing that she differentiates to me is her perseverance and it’s valid for the other children.
In our teen years, I am fat and she was thin. She was a desired girl and I am not.
She is the one who asked me to teach herself “how to get well understood in using a cellular phone in one week” and potentially made me mad just because she could not implement what I’ve taught correctly about sending a message.
Someone who walked one kilometer left behind me in the Singapore roads just because I could not slow down my speed of walk. I was mad at her only because she got fooled by the unoriginal luggage seller there.
She is the one who never cook any meal when my father out of town though she prefers ordering us to buy something outside. Otherwise she will get the cooking time started at 5 PM just because my father will arrive at 9.30 PM.
She is the one whose fried noodle will be finished by me in case she feels full at that time or considering by the level of her blood sugar.
She ever came to my room, hugged me, and cried on me while she told me that she miss one of her daughters out there at that time. Guess what I did, I was mad at her because she didn’t deserve to get acted like that.
Know what, suddenly I feel like there's a Korean guy side in me who cannot show the harmony of affection to the one he loves, it’s pretty ashamed feeling anyway. It’s being proved that there are three words of “mad” in all these paragraphs so far.
She was the one who accidentally knew about my preparation of getting India’s school in case of the phone call for the test and interview rang when I was not at home, I didn’t have a plan to tell anybody though until I was really sure, so I told her to keep quiet and she told me that she was sure.
One message that simply trembled in the presence of the day when my brother left home to study abroad was “don’t forget to turn off the gas stove because she often forgets to do it”.
Few weeks ago, when she accompanied me to return the concert ticket, there was an immense shocking statement that made me kept in the fidgetiness. After our three hours of confronting the rush of Jakarta’s traffic jam, around two kilometers before we got arrived at home, she told me that she forgot to turn off the gas stove. No more words occurred because there was only my imagination that led me to the picture of fire burning attack at my house. I was really worried about and seek for if there were any fire fighter car back and forth on the street. Fortunately, it didn’t happen. I didn’t know whether it was only her forgetfulness because after I checked the stove, it didn’t turn on, I only heard she whispered “God saves me.”
I swear that this is the one that I type with no hesitation and full of no offense. She sat in front of my boyfriend (currently ex-) and listened to him kindly about asking her to break up with me. I guess she was created to ensure me at that time and I was really grateful.
She is a tough woman that I ever met. Although I admire Jacqueline Kennedy Onassis, Amelia Earhart, Condoleeza Rice, Jane Austen, Hillary Rodham Clinton, Gabrielle Bonheur, Hellen Keller, Anne Frank, and other inspiring women that ever lived in this world whether fiction or not but she's a truly splendid sun that I ever had.
Loving her is like three years worth of high school times, it fluctuates to the warm and cold situation, obstacles, fights, affection, friendship, careless and care unites into something which ended to the interdependence of relationship. She is the only one woman whom I had sent a text message ended with “I love you” and I proudly announce that she is my mother.
"Demand perfection but never high expectation. Sometimes the expectation only leads you to the disappointment."
Saya tertohok. Beberapa minggu yang lalu, kalimat ini terpampang dengan jelasnya di akun Twitter salah seorang yang saya follow, Mas Ario. Entah mengapa ada rasa getir ketika membacanya, mengingat pada waktu itu sedang dilanda terpaan pesimisme akut. Selalu, orang akan lebih tertarik terhadap perihal sentimentil yang dihubungkan atau secara sengaja dirasuki ke dalam keadaan dirinya sendiri pada saat itu. Begitulah, untuk beberapa manusia.
Apa itu ekspektasi? Apa maksud dari ekspektasi tinggi? Tenang, di sini tidak akan ada bahasan mengenai Teori Ekspektasi yang di kemudian hari dikembangkan oleh Lucas. Namun pada hakikatnya mereka berpijak pada kaki yang sama, yaitu prediksi terbenar dari segala sumber daya yang tersedia. Di mana yang terbenar tidaklah selalu menjadi yang terbaik. Dan yang terbaik tidaklah selalu menjadi yang terbenar bagi orang lain.
Bingung.
Berusaha sok tahu untuk menyimpulkan sesuatu tetapi tersendat di tengah-tengah kata. Jadi, mari kita lupakan saja sejenak haha. Saya sedang tidak ingin berekspektasi. Sudah cukup banyak kekecewaan.
Oh iya, saya sedang senang membaca tulisan-tulisan Iga Massardi di blog-nya. Salah seorang personil dari The Trees And The Wild yang vokalisnya memiliki karakter suara yang sangat amat begitu mirip persis sekali dengan John Mayer, dan yang pasti rekan-rekan sekalian telah ketahui, nama vokalisnya Remedy Waloni. Ya, Remedy. Lalalalalala~
sumber: Mahaka Entertainment @mahakaent.
sumber: Muhammad Asra Nur @cantsaynotohope.
Bulan Maret benar-benar bulan dengan penuh kemeriahan di sana kemari. Ada kemeriahan tugas-tugas yang kian tiada hentinya, kemeriahan ujian tengah semester yang menjadi tonggak pembuktian dari apa yang telah dikerjakan selama 1,5 bulan ini, kemeriahan perhelatan berbagai distraction, hingga kemeriahan konser Immi esok hari (tidak sabar). Saya sedang tidak ingin berekspektasi, maka tukar saja imbuhan "ke-an" pada kata "kemeriahan" dengan kata "semoga". Itu lebih realistis. Dosen Ekonomi Internasional saya mengeluarkan sebuah pernyataan pada awal pembelajaran,
"Biasanya, orang belum berumur 25 tahun itu idealis. Tapi setelah menginjak 25 tahun, mereka akan menjadi realistis."
Ratna Khairunisa, teman saya, berkata bahwa saya "karbitan". Awalnya sukar untuk dimengerti dan diterima, tetapi setelah dijelaskan dengan analogi semacam ibarat buah mangga yang masih keras dan masam namun sudah diperam ke dalam air gula, maka saya mengerti. Sial. Itulah sebabnya, saya selalu berkata bahwa jangan tertipu dengan wajah. Tetapi tidak ada gunanya juga bagi saya untuk menyalahkan apa yang memang sudah menjadi begini adanya.
Ngomong-ngomong soal usia, beberapa hari yang lalu saya menonton konser salah satu band pop rock orbit-an Pete Wentz. Halah ckckckck. Kalau tidak karena gratisan dan kalau tidak karena berlari sejenak setelah ujian Akuntansi Biaya saya pun tidak akan menonton. Walau opportunity cost-nya cukup besar karena harus memunculkan asumsi bahwa tidak ada ujian Ekonomi Moneter di keesokan harinya, setidaknya ada tiga hikmah yang bisa saya dapat dari perhelatan tersebut bahwa:
1. Berada di tengah gerumulan para remaja masa kini sama saja dengan mencelupkan diri ke dalam pasar persaingan sempurna. Barang-barangnya homogen, dan secara jangka panjang hasilnya benar-benar zero economic profit.
2. Kaos, jeans, sepatu keds, handuk dan tas punggung sudah menjadi outfit yang terlupakan di perhelatan semacam itu.
3. Zaman sudah berubah, Bung!
Untuk itu, mari kita lihat seperti apa zaman di keesokan hari. Selamat tidur.
Cheers :)
Mayang Arum Anjar Rizky.

Beberapa hari yang lalu, saya terduduk dan bersender di salah satu pojok bagian dari gedung di tempat saya mengambil studi. Tidak sendiri, tidak juga bergerombol. Ditemani dengan sebuah laptop yang saya pangkukan di atas kaki saya, beberapa buku, pensil, kertas-kertas berserakan, penghapus, tas, dan kacamata yang hanya saya geletakkan di atas lantai. Tidak saya pakai, karena untuk kesekian kali saya merasa gembira bahwa benda blur yang ditangkap oleh mata ini akan mengantarkan saya untuk tidak selalu melihat segala sesuatu secara detil, karena terkadang kita perlu beristirahat sejenak dari kenyataan yang sempurna.
Kata "ditemani" sebelumnya tidak hanya berlaku sebagai sebuah personifikasi untuk menganggap beberapa benda yang disebutkan tadi sebagai teman, tetapi juga secara harfiah. Karena empat orang teman yang berwujud manusia berada di dekat saya; dua orang wanita yang saya kenal seiring dengan kehidupan di tempat saya mengambil studi pada saat ini, satu orang teman masa sekolah semenjak empat tahun lalu yang harus saya akui pada akhirnya adalah bahwa ia seorang kakak kelas saya di masa Sekolah Dasar, dan satu orang wanita lagi yang merantau ke Kota Pelajar namun kebetulan sedang melakukan kunjungan sebelum pada esok harinya ia kembali ke ranah kota pilihan studinya. Kami duduk, bercerita, tertawa, dan saya tetap melakukan kegiatan itu seiring dengan mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Ekonomi Internasional yang menurut saya lumayan menguras pikiran bagi mahasiswi tidak bervisi seperti saya.
Jari-jemari tetap beradu ke dalam susunan huruf yang ada di keyboard, sesekali saya menengok ke kertas tulisan jawaban yang telah saya buat sebelumnya, sesekali melihat ke arah teman saya yang sedang bercerita, dan sesekali saya ikut menimpali. Dalam hening di alam pikiran saya terlintas, saya benci melakukan kegiatan multitasking, di mana jika kita mempenetrasikan diri ke dalam sebuah grammar bahasa Inggris, akan terbentuk sebuah tense yang diistilahkan sebagai past continous tense dengan ciri-ciri munculnya adverbial clause(s) di tengah kalimat tersebut. Maaf jika terlalu berlibet, tetapi pada akhirnya saya menemukan sebuah peribahasa yang tepat untuk menunjukkan kondisi pada waktu itu yaitu sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ya, saya tidak suka melakukannya. Tetapi naif juga bagi saya jika tidak mengakui bahwa hal-hal semacam itu tidak harus dibiasakan dari sekarang, dan saya memang sudah terbiasa. Dan lagipula, saya pun sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu yang tidak saya sukai. Dengan begitu, saya akan belajar banyak hal, salah duanya untuk mencoba mengenal segala sesuatu dari sisi yang lain serta melatih keikhlasan. Ya, begitulah hidup. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.
Teman pria saya itu bercerita mengenai suatu hal dan hendak menguji kadar kegilaan di dalam diri saya. Di dalam ceritanya tersebut, alkisah terdapat seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Hingga pada saat di pemakaman, ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya yang amat mendalam. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena melalui proses di pemakaman itu pulalah, anak tersebut bertemu dengan seorang lelaki yang amat mengganggu pikirannya untuk beberapa hari kemudian karena ia jatuh cinta pada lelaki tersebut. Tetapi sayangnya, lelaki tersebut hanya dapat diketemuinya di pemakaman, ia tidak dapat menemuinya di tempat lain kecuali di pemakaman. Hari demi hari pun berlalu. Dan pada suatu waktu, anak tersebut membunuh kakaknya. Selesai, titik.
Cerita berakhir di situ, tetapi teman saya tersebut tetap tidak berhenti berbicara, dia menanyakan pada saya mengenai alasan anak itu membunuh kakaknya. Tidak ada alasan apapun yang terlintas secara spontan di dalam benak saya selain karena anak tersebut ingin datang ke pemakaman. Perlahan teman saya itu semakin bersemangat dan menanyakan sekali lagi alasan anak itu membunuh kakaknya. Saya menjawab,
"Ya karena dia pengen ke pemakaman."
Teman saya itu pun kembali semakin bersemangat dengan ditaburi raut wajah yang penuh kaget, dan kembali saya tekankan padanya bahwa menurut saya anak tersebut membunuh kakaknya karena ia ingin datang ke pemakaman dan bertemu dengan lelaki yang hanya dapat diketemuinya di pemakaman.
Raut wajahnya yang semula bersemangat, kaget, berubah menjadi takut untuk sepersekian detik. Ia tersenyum licik seketika, dan mengatakan bahwa saya memiliki kecenderungan sebagai seorang psikopat. Bagaimana bisa? Jawaban saya itulah yang mengindikasikan saya memiliki kecenderungan tersebut, dan ia semakin mempertajam keyakinannya bahwa saya memiliki kecenderungan tersebut dengan mengatakan bahwa cerita seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa ahli di luar negeri untuk menguji kadar kegilaan seseorang.
Saya tetap keras hati dan tidak percaya dengan menunjukkan berbagai argumen yang dapat membela saya, karena ia mengambil studi hukum, maka saya istilahkan bahwa saya sedang memberikan pledooi di depannya. Karena pada saat itu saya merasa sebagai seorang tersangka yang telah diberikan vonis bahwa saya mengidap kegilaan hanya karena sebuah tes uji coba yang sudah dilakukan oleh beberapa ahli namun belum tentu akurat bagi saya. Untuk itu saya bertanya padanya jika hasil jawabannya bukanlah seorang psikopat, maka jawaban apa yang seharusnya keluar dari mulut saya. Lalu dia menjawab,
"Ya apa kek, karena kakaknya ngebunuh ibunya kek, atau karena kakaknya ngebunuh laki-laki yang di pemakaman."
Saya tetap tidak percaya dan memutuskan untuk bertanya pada teman wanita lain yang ternyata telah melakukan uji coba tersebut sebelumnya, dan pada saat itu ia menjawab bahwa anak tersebut membunuh kakaknya karena kakaknya terlibat asmara dengan laki-laki yang ia temui di pemakaman.
Jadi, silahkan disimpulkan sendiri, boleh dipercaya, boleh juga tidak. Saya sih jelas tidak.
:')
Cheers,
Mayang Arum Anjar Rizky.
"Coco’s attempt to evade the power of men over her life by dressing like a man, and her imitation of masculine fashions in the clothing she designs feel self-evident to a European or American viewer."
-The Daily News Egypt


"She likes dresses with no corsets, hats with no feathers, that's my Coco."Read more...
-Étienne Balsan
Ada 5 yang gue jagokan di Grammy kali ini.
* Bruce Springsteen
* Imogen Heap
* Phoenix
* Dave Matthews Band
* Brendan O'Brien
Sebenarnya tambah 1 lagi kesukaan gua, Jason Mraz. Tapi entah kenapa jujur saja, rasa kagum gue menurun dengan beliau haha. Barangkali dikarenakan lagunya udah sering banget diputar-putar di mana-mana dan semakin banyak orang yang suka. AH! Sayang sekali, padahal judul Blog ini kan The Remedy, dijiplak plak plak dari judul lagu Jason Mraz yang pertama kali membuat gue jatuh cinta padanya. Tapi ngga papa, selama ia masih berkarya, saya masih akan tetap menikmati walau jenuh.
Kategori Album of The Year:
Sayang sekali Big Whiskey and the Groogrux King-nya Dave Matthews harus kalah dari Fearless-nya Taylor Swift. Tapi emang saingannya berat sih, ada The Fame-Lady Gaga, The E.N.D-Black Eyed Peas, sama I Am... Sasha Fierce-Beyonce. Tapi tetap saja dari kesemuanya gue lebih milih Dave Matthews. Haha subjektif.
Kategori Best Male Pop Vocal Performance:
Make it Mine-nya Jason Mraz mengalahkan This Time-John Legend, Love You-Maxwell, If You Don't Know Me By Now-Seal, dan All About the Love Again-Stevie Wonder. Boseeeeeeeeen dengerin Jason Mraz.
Kategori Best Pop Collaboration with Vocals:
Lucky-nya Jason Mraz & Colbie Caillat berhasil mengalahkan Sea Of Heartbreak-nya Rosanne Cash & Bruce Springsteen, Love Sex Magic-nya Ciara & Justin Timberlake, Baby, It's Cold Outside-nya Willie Nelson & Norah Jones, dan Breathe-nya Taylor Swift & Colbie Caillat. Sama aja, bosen gua.
Kategori Best Pop Instrumental Performance:
The Fire-Imogen Heap kalah dari Throw Down Your Heart-nya Béla Fleck. Yang nominasi lainnya, gue ngga ngerti haha udah tingkat tinggi seleranya.
Kategori Best Solo Rock Vocal Performance:
Yak, Working on A Dream-nya Bruce Springsteen ngalahin Prince sama Bob Dylan. \m/
Kategori Best Rock Song:
Gue suka deh lirik 21 Guns-nya Green Day, menohok. Tapi kali ini subjektif, jadi gue manjagokan Working on A Dream-nya Bruce Springsteen. Tapi ternyata, kalah. Hahaha. Yang menang songwriters dari Use Somebody-nya Kings of Leon.
Kategori Best Rock Album:
Yak, Reprise dengan 21st Century Breakdown-nya Green Day berhasil mengalahkan Columbia Records dengan Black Ice dari AC/DC, Interscope dengan No Line On The Horizon-nya U2, serta kalo yang ini wajar RCA Records dengan Big Whiskey And The Groogrux King-nya Dave Matthews Band. Hehe.
Kategori Best Alternative Album:
Nah kalo yang ini dari awal gue sudah memprediksi pasti Wolfgang Amadeus Phoenix-nya Phoenix menggantikan In Rainbows-nya Radiohead tahun lalu. Dan ternyata benar, meskipun saingannya berat ada David Byrne & Brian Eno, Death Cab For Cutie, Depeche Mode, sama Yeah Yeah Yeahs. Tapi Phoenix memang juara :)
Kategori Best Pop/Contemporary Gospel Album:
Ehh Jars Of Clay masuk nominasi loh! Hehe dengan albumnya The Long Fall Bck To Earth. Meskipun kalah, tapi keren juga. Ini band hampir setipe sama Switchfoot, musiknya ber-spiritual relationship yang oke.
Kategori Best Compilation Soundtrack Album For Motion Picture, Television, or Other Viual Media:
Yes, Twilight kalah. Meskipun ada Bella's Lullaby-nya Carter Burwell dan Muse. Tapi entah kenapa agak sensitif karena Paramore banyak ngisi track. Maaf, kembali subjektif. Yaaah tapi emang OST Slumdog Millionaire berhak menang kok, India's invasion ngga hanya di ekonomi saja ternyata tapi juga di dunia permusikan :')
Kategori Best Song Written for Motion Picture, Television or Other Visual Media:
Yah, The Wrestler-nya Bruce Springsteen kalah dari Jai Ho.
Kategori Best Engineered Album Non-Classical:
Ini dia baru namanya penyanyi yang jenius. Engineer-nya artisnya sendiri. Selamat untuk Imogen Heap dengan Ellipse-nya, sungguh tidak sabar melihatmu di Jakarta tanggal 31 Maret.
Kategori Producer of The Year Non-Classical:
Benar kan, Brendan O'Brien menang. Ini dia album-album yang diproduserinya, Black Ice (AC/DC), Crack The Skye (Mastodon), The Fixer (Pearl Jam), Killswitch Engage (Killswitch Engage), dan Working On A Dream (Bruce Springsteen).
Lia punya Tumblr. Labil banget nih anak. Liat aja, gue ngga akan tergoda. Udah cukup Blogspot, gue kan orangnya setia (nyeh?). Pertama kali gue buka Tumblr-nya, entah kenapa postingan-nya dia yang ini yang gue temuin. Dulu gue mau nge-post, tapi udah lupa kata per katanya, jadi mari kita reka ulang.
October 18th, 2008
Lia : "Halo?"
Mayang : "Halo li, lagi sibuk ga?"
Lia : "Engga kok, kenapa May?"
Mayang : "Oh, gapapa. Eia li, gue udah bisa conference call loh! bentar ya lo diem bentar, ada yang mau ngomong"
(diem)
Mayang : "Bentar li, diem bentar dulu yaa"
Lia : "iyeeeee"
(tiba-tiba ada suara berisik, trus ada suara orang)
Mayang : "Halo..?"
Idkwho : "ya..? Halo..?"
Mayang : "Halo, Mas Angga?"
Idkwho : "ya? Halo!"
Mayang : "Halo, Mas Angga, ini Mayang. ini ada temenku yang tadi aku bilang ulang tahun, namanya Lia. Dia suka banget sama Maliq, Mas"
(GUE ------> KAGET, SIOK)
Angga : "Oh iya. Halo Lia?"
Lia : "I-i-iya. Halo? hehehe" (cengengesan ga jelas)
Angga : "Selamat ulang tahun ya, Lia! ulang tahun yang ke berapa nih?"
Lia : "ke-18"
Angga : "Oh masih muda ya. kuliah dong berarti?"
Lia : "Iya, baru semester 1"
Angga : "Kuliah dimana? ngambil jurusan apa?"
Lia : "Di Atma, ngambil psikologi"
Angga : "Oh psikologi. Eh gimana nih ulang tahun? ngadain party ga?"
Lia : "Ah engga, ulang tahunnya di rumah aja hehehe"
Angga : "Yaah masa dirumah aja? party dong party"
Lia : "Hehehehehe" ---> (cengengesan lebih ga jelas lagi)
Angga : "Yaudah sekali lagi selamat ulang tahun ya, Lia. sukses terus!"
Lia : "Amiiin, iya makasih ya Mas Angga!"
Mayang : "Makasih banyak ya Mas Angga!"
Angga : "Iyaaa. Daaah"
(telvon di tutup)
Lia : "MAYAAAAANGGGGG LO NGAPAIN GUE GEMETERAN SEKARANG"
Mayang : "Hahahahahahaha"

“…I count the steps the distance to. The time when it was me and you is so far gone. Another face another friend. Another place another end but I'll hang on…”
-Best Days, Graham Colton
Well it is precisely right for us when we lose someone then we will know how much we care for them. When I was arrived in Jakarta and spent my last two years in one of an elementary school here, I met a girl named Gharini Abhirama. I forgot how we met each other at school but one thing that I always remember about, it took a lot of struggles for us to make friends. Now, after we have been separated for years, I know that I have to lose her in another year, and more.
Yea, I was a smart but also a bad one at my previous elementary school before. So the arrogance led me to be a fucking picky friend. No wonder, I was a little Brainy Bobby who liked to bully a new comer in class and persuade my friends to be bad at her. But considering of my rank at school, my friends bent down at me (evilsmirk). But still, it did not bordered me to have a lot of friends, because since I was a child, I only have one or two best friends but I tried to not be depended on them, so I could socialize with others. Believe it or not, in those ages, I already had a qualification of friends. At school, I have friends for joking and mocking each other every time we had a time break (the Willy & William Twins), a friend but enemy inside because we competed each other to reach the best rank (Faris), a friend that surely friend because she was the one who made me change and always warned me to be a good friend (Alviola), and et cetera.
In case the moving of my family at that time to follow my father in the capital city here, I had to leave all those friends and to adapt to the new environment, not only to study but also to make friends. So, I learned to be a good girl.
Then I met some new neighbor friends who were also my friends at school. We played together when the holidays came, we got to school everyday together, we went to canteen together, sat on the nearby chairs at class, watched Amigos X Siempre after school until we had the same group name as the movie with the boys, got to the mosque to Tarawih or Shubuh pray when the Ramadhan came, played fireworks and had a barbeque time together to celebrate the new year’s eve, all the things that could be done together. I felt like I was accepted, cared, and for some reasons I felt like I was in a comfort zone where I always could find what I wanted. And in the end, I realized it could be the things that I always wanted, but it was not I needed to be somehow.
The thing is, I need the challenging one.
Perhaps it could be called a karma or something like that, because of my bad attitude at the previous elementary school, so at the new elementary school, when I already found my friends, I could not separate myself with them, I was being depended on them. Maybe I was not a person that being bullied, but I could feel how hurt was that thing by learned how to be an empathy one.
Then, there was Gharini Abhirama, yea, the one who could be a person to share everything about, to hear anything what she talked about, to learn something bad then made us good, and all the things that I could improvise myself. We could not be together firstly, because we were on a “different track”. But it was not a problem for us because at that time, what I looked for was happiness, and happiness was not always brought by the togetherness. If you’re unhappy, isn’t it right for you to not have yourself stayed? So I cracked out, even though there will always good or bad impacts every time you make a decision. But as I decided, I took the risks and I paid the consequences.
Day by day, I did an “affair” (ha ha ha) with Gharin. The disgusting one, we had one book which I can still remember the color of this book, black-greenly, and this book could be the place for us to write everything. In a day that book lived at my house, I wrote at night. And in the tomorrow morning, I gave the book to her and that book lived at her house, she wrote something, on and on. One day when I and Gharin were in the nostalgic time, we just laughed at loud about it and thought how freak we were in a childhood time.
I have one belief that every secret will always be cracked whether by the third party or by itself one day. It happened with this “affair” between me and Gharin ha ha. So my used to be friends could not accept the fact that I was out of their controls at that time. But I had learned to say “No” anyway, and tried to explain to them that it was not the kind of way they were begging to me, there were another way of being respect to others though. With all our children’s tears, they freed me. It felt like so somos-libres! I had found what I needed though, a challenging happiness. I could be friends and did something crazy with others like Dean, Gita, Anjani, Lulu, Vita, and all people at school included how to learn about that elementary lovebird stuffs ha ha ha. The point is, it is nice of being crazy and bad with people you trust because at the end you know that you will learn something good and you do not have to understand about their personalities earlier then plan something to make it deal with it, just let it flow, because you can not know the person without being natural with them, moreover in the short time, so let’s chill and I like a quote from Mas Aghi Narottama, “Do not take too serious in life, nobody gets out alive anyway.” So I might probably say that find something challenging.
This is dedicated to you who considered yourself as a friend:
Gharin ever told me in that book, that she did not want to be at the same junior high school with us, this statement was not about loving or not loving, living in egoism or giving a treat, but this was about letting others to learn different things in this world, to understand about expanding dreams and the differences inside of world, the good and bad friends, the things that will lead you to come back home. So raise your dream where in the place you study now, Ghar. Then come back and make your home better.
For your information, when I made it, my eyes opened. Previously, I have one belief that it is a bull when someone says; loving is not always has to own each other. For some reasons I could not believe that because of my experiences in this freaking love thing. I thought that I could not love someone without make him mine, anyway, now I still fall in love with him even though he’s not mine (: After all, it is just a matter of time, someday you will accept the fact that it is right, I do not know how to explain, but I feel it now. There’s someone says “Being realized is easy, the important is how we can accept it.”
Whether it has been glued for a long time or not, but know what, I already accept it.
Dikutip dari rollingstone.co.id
Kabar duka datang bagi mereka para penggemar musik-musik bagus dalam negeri. Label rekaman independen terkemuka asal Jakarta, Aksara Records, yang selama ini menjadi rumah bagi band-band andal seperti Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, The Brandals hingga SORE mulai akhir tahun 2009 ini akan resmi ditutup oleh pemiliknya.
Selama enam tahun beroperasi, Aksara Records hingga kini telah merilis sebanyak 32 album milik artis indie lokal dan internasional.
“Owner sudah menyatakan tidak akan melanjutkan lagi terjun di bisnis ini,” ujar Aldo Sianturi, managing director Aksara Records, via telepon.
Menurut Aldo, sejak awal 2009 Aksara Records sebenarnya sudah bangkrut dan ketika ia dipercaya untuk mengambil alih kendali bisnis di sana pada pertengahan tahun ini kondisinya sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
Aldo menjelaskan seluruh urusan administrasi, royalti dan kontrak rekaman yang berhubungan dengan artis akan diselesaikan secara internal sedangkan hak kepemilikan master album rekaman akan diberikan kepada artis-artis yang berada di bawah roster Aksara Records.
Ketika Rolling Stone coba mengonfirmasi kabar tutupnya indie label bergengsi ini kepada Hanin Sidharta, salah seorang pemilik Aksara Records, ia tidak mengangkat ponselnya dan hanya mengirimkan pesan kalau ia tengah berada di Tokyo, Jepang. “No comments until further notice, Pak,” begitu tulisnya via sms.
Aksara Records yang didirikan Hanin Sidharta dan David Tarigan sejak tahun 2004 merupakan salah satu cabang bisnis yang dimiliki oleh Aksara Bookstores, salah satu chainstore buku terkemuka di ibukota. Rilisan mereka rata-rata fokus pada genre musik eklektik seperti indie pop, electropop, indie rock, jazz hingga triphop.
Rilisan pertama Aksara Records adalah CD kompilasi JKT:SKRG (2004) yang berisi 12 band indie lokal yang dikemudian hari sangat dikenal namanya di seluruh penjuru tanahair. Mereka adalah C’mon Lennon, SORE, The Brandals, The Upstairs, Seringai, The Adams, Zeke & The Popo, Teenage Death Star, Sajama Cut.
Sementara rilisan terakhir Aksara Records adalah album kedua Efek Rumah Kaca bertitel Kamar Gelap yang telah beredar sejak Desember 2008 lalu. Praktis sepanjang tahun 2009 ini tak ada satu pun rilisan lokal yang diluncurkan oleh Aksara Records.
Selain merilis katalog musik milik artis lokal, Aksara Records juga sempat merilis album-album milik artis-artis indie internasional di antaranya Arctic Monkeys, M.I.A.,Vampire Weekend, Thom Yorke, Basement Jaxx, Club 8 hingga The Whitest Boy Alive.
Aksara Records bahkan juga sempat merilis pula album soundtrack dari beberapa film blockbuster Indonesia seperti Janji Joni, Berbagi Suami dan Quickie Express.
Walau Aksara Records berhenti beroperasi namun sebagian karyawan indie label ini telah sepakat untuk meneruskan perjuangan mereka dengan membentuk sebuah label rekaman baru bernama Raksasa Records.
“Ini adalah sebuah label baru yang otomatis akan memiliki cerita baru nantinya. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Aksara Records,” tegas Aldo.
Aldo Sianturi, David Tarigan dan Dono Firman akan memulai operasional label rekaman baru mereka dengan merilis album terbaru milik White Shoes & The Couples Company pada Februari 2010.
“Hingga kini artis yang telah bergabung dengan Raksasa Records adalah White Shoes & The Couples Company dan SORE,” jelas Aldo yang akan memegang posisi yang sama dengan yang dijabatnya kini di Aksara Records.
"Gue lebih ingin ngadopsi anak ketimbang melahirkan anak."
Hahaha, sontak Ai kaget ketika gue mengutarakan hal itu di tengah-tengah sesi curhat pas Citta, gue, dan Meisha menginap di rumahnya setelah lelah menggerayangi rumah Lia tengah malam untuk memberinya surprise ulang tahun tiga minggu yang lalu.
Well, gue punya alasan juga untuk berkata seperti itu. Bukan karena tidak ingin memperbaiki keturunan atau pun menjaga titipan akan apa yang diberikan oleh Tuhan, tetapi lebih kepada kritisisasi dan kesadaran dalam menanggapi situasi dan kondisi terkini. Cukup ironis apabila nanti di saat gue melahirkan, gue harus menyadari bahwa anak gue tersebut harus menghadapi dunia dengan lebih sangat-teramat tegar ketimbang ibu, nenek, dan buyut-buyutnya. Ibaratnya buyut-buyut diuji dengan kehidupan feodalisme kerajaan, nenek dengan kehidupan kolonialisme penjajahan, ibu dengan kehidupan reformisme kenegaraan, anak dengan kehidupan globalisme besar-besaran, cucu dengan kehidupan yang-yah-kita-lihat-saja-nanti (makin ngawur, udah ngga tau lagi istilah apa yang bagus).
Terkadang pulang kuliah di jalan gue suka mikir sambil melihat kosong ke arah samping kanan (lebay), orang-orang di jalur jalan sebelah ngga stres apa yah harus berhadapan dengan kemacetan dua kali sehari tiap berangkat kerja sama pulang kerja? Plus sekali pergi dan keluar kantor kalo makan siangnya di luar. Deg-degan takut ada yang nyenggal-nyenggol, pas kesenggol dikit langsung bermain dan menyipitkan mata ke orang yang nyenggol, atau bahkan mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah dan makian. Begitu gue sampe rumah, orang-orang ngga pening kepala apa yah harus mendengarkan berita buruk setiap harinya di sebagian besar headline berita yang muncul tiap pagi, siang, dan petang, atau bahkan beberapa stasiun TV yang menyiarkan itu berulang-ulang tiap jam? Kasihan bokap gue, beliau mengalami hal itu saat ini. Pergi macet pulang macet begitu sampe rumah di TV beritanya bikin pening kepala.
Ketika bikin ini, kepala gue pusing. Sungguh. Tadinya gue mau ngerangkum tugas Mikroekonomi yang empat chapter itu, tapi gara-gara emak gua nyetel TV kenceng banget sampe pintu kamar gue tutup dengan galaknya terus gue idupin CD kenceng-kenceng saking puyeng sama omongan pembawa acara berita, ehh ujung-ujungnya gue keluar kamar juga terus duduk melongo depan TV sambil mengernyitkan dahi. -____-'
Sejujurnya gue tidak ingin membahas duduk permasalahannya karena pun pengetahuan gue akan dunia kehukuman tidak sebanding besar akan orang-orang itu. Tetapi bukan berarti tidak ingin mengikuti perkembangan, hanya saja keberpihakan di sini lebih kepada sisi manusiawi akan sebuah kebenaran (kok tiba-tiba gua jijik sama diri sendiri). Iya, gue entah kenapa tidak memperdulikan kasusnya lebih dalam, dahulu gue peduli ketika masih bisa dicerna sama otak, tetapi ketika udah mulai muncul pemeran pendukung baru macam Kabareskrim Susno yang akibat keceplosan tertangkap media jadi dihujat habis-habisan, Ong Yuliana, Ary Mulyadi, Ade Rahardja, bahkan Julianto yang hingga kini alis tebal terangkat serta mata sipitnya tidak kelihatan pun sudah membuat gue semakin mual-mual. Sama akan ketidaktertarikkan gue akan serial TV macam Heroes, Gossip Girl, Friends, Beverly Hills 90210, atau bahkan serial drama Korea yang membanjiri kehidupan para muda-mudi remaja pada umumnya. Intinya kayak produser sinetron, semakin diperbanyak episodenya, semakin banyak penontonnya pengen melihat bagaimana akhir cerita.
Gue sebelumnya pernah mengikuti update-an Facebook seorang aktivis muda pejuang nasionalisme yang hingga sekarang masih berkiprah dan yang waktu itu sempat hadir di kampus, tapi akhirnya harus gue remove friends karena gue merasa terganggu dengan status-statusnya yang penuh dengan kritikan terhadap pemerintah yang sebagian besar destruktif. Maka dari itu maaf Pak, saya hapus. Gue rasa media massa saat ini menjadi orang ketiga yang memiliki peran penting sebagai pemeran pendukung terbaik, karena berhasil mengantarkan penontonnya masuk ke dalam era di mana mereka bisa melihat dan menilai langsung. Dan bahkan membuat gue berpikir bahwa mereka pun telah dijadikan alat. Semakin ironis ketika gue menonton berita di TV ada sekelompok anak SD di Jawa Tengah yang melempar-lemparkan mainan buaya ke lantai dan menginjak-injaknya. Dan baru saja beberapa menit yang lalu, ada iklan layanan masyarakat mengenai penyiaran yang dibintangi oleh Kak Seto untuk menghimbau orangtua agar membimbing anaknya dalam memilih tayangan televisi. Phew.
Pada dasarnya gue tidak ingin membuat diri ini menjadi apatis hingga antipati, tetapi memang benar krisis kepercayaan saat ini menjadi masalah utama di dalam diri manusia. Bagaimana tidak, munculnya hoax-hoax yang terkadang hanya digunakan sebagai lelucon bagi para Kaskus-ers itu bisa membuat orang semakin lama semakin menjadi apatis loh. Apalagi dengan maraknya isu-isu yang dijadikan sebagai konspirasi di balik konspirasi dari pihak-pihak tertentu. Ibaratnya lo cuma bisa diam di dalam rumah karena ketika lo keluar, lo ngga tahu harus berpegang atau percaya dengan siapa atau apa.
Walaupun sedih untuk menyetujui kata-kata Pak Faisal Basri tadi bahwa beliau percaya, Kapolri dan Jaksa Agung adalah orang-orang yang baik, namun mereka harus mundur. Jujur ini sama sedihnya dengan ketika gue melihat adegan Alm. Presiden Soeharto membacakan secarik kertas di depan mikrofon pada hari terakhir dirinya menjabat sebagai presiden, gue sedih ketika ada orang yang berkorban akibat perlakuan konco-konco atau bawahannya yang tidak baik. Walaupun kesalahan itu menjadi sebagian dari kesalahan si pemimpin karena tidak berhasil menjaga perilaku anak buahnya dengan baik.
Berhubung gue tidak ingin memprovokasi orang walaupun itu memang benar bahwa jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan orang lain, haha, lebih baik kita sudahi saja pembahasan ini. Hal yang ingin ditekankan hanyalah sebuah keinginan dari dalam diri ini untuk bisa merasakan hidup yang jujur, adil, dan damai di mana hal tersebut memang sulit untuk dijangkau oleh negeri yang penuh bedebah ini seperti kata Adhie Massardi. Yang kalo di dalam Statistika itu ada Type I Error dan Type II Error-nya, di mana yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Hoek, gue semakin mual.
Udahlah woy please udahan, kami haus akan berita gembira di TV. Life is getting crazier anyway, dunia udah mau kiamat woy.
"Love is always patient and kind. It is never jealous. Love is never boastful or conceted. It is never rude or selfish. It does not take pleasure in other peoples sins, but delights in the truth. It is always ready to excuse, to trust, to hope, and to eudure whatever comes."
Landon: Jamie, I'm trying here, OK? Maybe... maybe I miss spending time with you. Maybe you inspire me.
Jamie: Sounds like bull.
Landon: Which part?
Jamie: All of it.
Landon: Well it's not!
Jamie: Prove it.
Jamie: [after she and Landon keep switching the radio station] Forty-two.
Landon: "Forty-two", what do you-what do you mean "forty-two"?
Jamie: Forty-two is "Befriend somebody I don't like". It's a to-do list I have.
Landon: What, like getting a new personality?
Jamie: Spend a year in the Peace Corps, make a medical discovery...
Landon: That's ambitious.
Jamie: ...Be in two places at once, get a tattoo.
Landon: What's number one?
Jamie: I'd tell you, but then I'd have to kill you.
Jamie: You’re acting like a crazy person, what's going on?
Landon: Right now, you're straddling the state line.
Jamie: OK...
Landon: You're in two places at once.
Landon: So, what's your number one?
Jamie: To marry in the church my mother grew up. It's where my parents were married.
Sedikit pelarian sejenak untuk menulis di blog malam ini karena ngga cuma gue yang capek, ini laptop juga kayaknya udah mulai minta diganti(haha), saking capeknya jadi suka ngehang ketika Tweetdeck, Plurk, dan microblogging site lainnya mulai bekerja rodi. Pertanda, sebelumnya gue browsing tentang tingkatan intel prosesor komputer, dan gue baru menyadari kalo Celeron kurang satu tingkat di bawah Pentium 4 dan Centrino itu bukan nama tingkatan intel prosesor komputer. Silahkan cari semua infonya di internet, ini benar-benar media revolution seperti video Prometeus yang gue dapet link-nya dari temen gue Agni, beberapa hari lalu. Ramalan dan kenyataan yang terjadi selama ini dan yang akan terjadi di masa depan, bahwa ngga akan ada lagi yang namanya analog. Semua serba digital. Bahwa segala sesuatunya akan hadir secara instan, tanpa proses. Canggih, tapi mengerikan.
Kayaknya agak susah dimengerti ya bahasa gue di atas, maklum, lagi on fire banget parah pengen cerita.
Seperti tajuk malam ini(hari ini tepatnya) yang sangat on fire parah. Benar-benar bukan NATO, tapi ATAY (After Talk Action Yes). Kalau dahulu kepanjangannya NATO adalah No Action Talk Only, beberapa waktu yang lalu gue mendapati Mas Aldo menyebutkan bahwa NATO adalah No Action Tweet Only, sebutan untuk orang-orang yang keranjingan menulis status di sebuah situs microblogging yang dengan tanpa sadar duduk seharian di depan laptop atau jari mengetik dengan lancarnya di Blackberry hingga tanpa sadar melupakan kehidupan nyatanya(RealLife) di dunia yang harus dikerjakan. Pertanda lagi, SecondLife. Tahu permainan itu? Semakin mengerikan ya dunia di masa depan.
Iya, lagi pada heboh soal Joko Anwar bertelanjang busana di Circle K. Ngga ingin menyebarkan info, silahkan cari di internet, sudah beredar kok fotonya, bahkan video behind the scenenya sedang di-upload di Youtube.
Sampai-sampai Twitter-nya Johnny Depp bertanya-tanya;
RT @JohnnyDepp: who the hell is jokoanwar? what's hot about him?Im gonna naked&walking around times square tomorrow,
Dan bahkan setelah fotonya tersebar pun, seorang teman gue yang gue sensor namanya menge-nudge gue di MSN;
A**** says:
Mayangg
Kirimin gue picnya joko anwar dongg
Dari tadi gue buka2 ga bisa nihh
Hehheeee
Dan Lia pun ikutan;
lia says:
udah liat fotonya blm may?
Mayango says:
udah2
lia says:
itu beneran ga ya?
parah tweetdeck gue bunyi mulu
RT an orang2
Ada apa dengan orang-orang? Orang Indonesia tepatnya. Semacam guilty pleasure juga buat gue, karena gue ikutan juga parahnya. Inikah hiburan dan cara pemuasan diri kita akan hasrat sebuah keeksistansian di dunia masa kini. Agak lebay sih omongan gue barusan, tapi intinya itu. Agak menohok juga gue ketika melihat Re-tweets dari Goodnight Electric yang didapat dari @senirupa;
Kwikwikwikwi RT @senirupa: Gila nih masa kita nonton twitter sih. Who would have guessed TV getting killed by twitter.
RT@senirupa Everyone who followed @jokoanwar today, we here in Indonesia are now abandoning TV and watching twitter instead. Its more fun!
Mas Gepeng, manajernya Goodnight Electric pernah bilang ke gue;
"Lo kalo mau naro video klip ke TVGE juga bisa." TVGE itu semacam akun buatan Goodnight di Youtube yang isinya muterin video-video klip lagu.
Meeeeeeeen, benar-benar pertanda! Gue udah seringkali dibilangin untuk belajar mengenai media TV mulai dari sekarang, karena benar-benar semua itu akan berubah layaknya ketika dahulu kala TV monokrom berubah menjadi TV berwarna. Gue udah beberapa minggu ini mengumpulkan info dan berita tentang revolusi media TV melalui media internet(lagi) semenjak dihimbau untuk melakukan itu dan bertemu dengan orang yang terjun di dalamnya langsung, waktu itu gue, Agni, dan Mas Aldo meeting sampe jam setengah 1 malem sama manajernya JakTV yang menjelaskan dari A-Z kenapa sekarang muncul TV-TV lokal dan bagaimana akhir tahun ini akan dimulai transisi dari TV analog ke digital. Dan meeting itu benar-benar ngegantung karena udah ngga enak sama penjaga restorannya, udah diliatin dan pelayannya nungguin semua. Benar-benar pertanda bahwa gue harus belajar lebih banyak mengenai ini semua. Kayaknya gue lebih cocok jadi anak broadcasting ketimbang ekonomi (kembali meragukan).
Jadi, kata-katanya Mas Aldo yang selalu diucapin kalo lagi sharing, masa depan itu ngga bisa dikarang, tapi bisa dipersiapkan.
Tapi satu hal yang hingga sekarang membuat gue agak berhati-hati dalam menjalani apapun, yaitu untuk tidak mudah percaya dengan orang lain dan apapun. Karena media, informasi, dan berita di dunia ini tuh sekarang mengerikan, salah satu contohnya tweet-nya Johnny Depp tadi (lol). Cukup menyedihkan ketika gue, anak-anak generasi sekarang dan masa depan harus berteman dengan itu semua.

I wish I could say, I have the reason but I don't have any reason to tell or angry with you. Because it's just based on my feeling and it sounds unlogic when it comes to be shared. I am the one who is very sensitive. All I want from you is only one, the thing is, you can say what you want to say or you like to say, but it's hard for me to accept that when it belongs to myself, my life, and my sense of honour. Maybe you didn't mean to me, but they did. So please, keep your mouth off of forcing them to think wilder about me, it's just not true and it's so irritating. I want my non-chalant side appears but it looks hard for now. Let me free, thank you.
Produktivitas gue menurun. Kalo kata seorang teman di kala senang dan susah, Lia, barangkali gue lagi jenuh dan capek aja, jadi butuh refreshing. Refreshing bagi gue adalah bisa berada di rumah sambil nonton tv, baca buku, bikin makanan, atau makan.
Gue seneng deh kalo sewaktu-waktu bisa invincible. Cuma memerhatikan bagaimana orang lain bersikap dan lalu-lalang tanpa harus merasa bersalah. Karena gue suka merasa tidak nyaman ketika terlalu diperhatikan. Itulah sebabnya gue lebih cocok mengerjakan sesuatu yang terletak di belakang layar.
You care in your way. Begitu kata salah satu teman meskipun banyak yang bilang gue terlalu cuek. Nggak apa-apa, terkadang gue puas karena menjadi orang yang cuek, tidak perlu membesar-besarkan yang kecil dan mengecil-ngecilkan yang besar. Yang negatif itu memang ada gunanya jika dilakukan pada saat yang tepat.
Cuek dan sensitif itu bertolak belakang. Tapi gue senang ketika kepekaan atau rasa sensitif gue muncul yang pada akhirnya memberikan suatu pertanda. Sign itu akan hadir kalau kita peka dan tidak terpaksa atau dipaksa. Karena jika dia sudah datang dengan sendirinya, kita bakal terpana.
Satu-satunya cara untuk menghindari agar tidak menjadi bagian dari sebuah keeksklusivitasan adalah, berteman dengan siapa saja. Dari situlah gue belajar memahami, menerima, atau bahkan menilai orang lain.
Ada yang bilang, "Bertemanlah dengan musuhmu, dengan begitu kau akan tahu kelemahannya." Punya musuh atau ngga, bukan menjadi suatu halangan bagi gue, selama tidak mengganggu kehidupan dan gue pun tidak melakukan sesuatu yang dirisaukan, kenapa harus ribet.
Kalo harus disuruh merancang rencana, itu bukan core-competence gue tampaknya. Gue lebih memilih untuk menjadi algojo yang hidup dalam kespontanan. Karena gue harus berhati-hati, apa yang gue rencanakan sering tidak berhasil. Jadi, bersiap-siaplah dengan sesuatu yang tidak terduga sebelumnya.
Pilih salah satu, love what you do atau do what you love. Pasti semua jawabannya yang kedua. Tapi kenapa pengimplementasiannya begitu susah ya? Gue sedang memilah itu semua dan mencari cara untuk finish what you have to, then do what you like to.
Gue sudah pernah ngomong sebelumnya jauh-jauh hari. Tiga negara yang gue kagumi setelah negara gue sendiri, India, Yunani, dan Brazil. Tanpa disadari, beberapa waktu lalu, India datang dan pergi pada akhirnya. Sekarang, Yunani datang dan abang gue akan pergi. Tinggal satu lagi, berhati-hatilah dengan perkataan yang dikeluarkan dari mulut.
Sudah hampir tiga tahun dan bosan dengan alasan "malas" ketika orang-orang menanyakan kenapa masih sendiri? Alasan gue cuma satu sekarang, balas dendam. Terdengar jahat ya, tetapi dengan membuktikan dan membuat orang menyesal suatu saat nanti karena melakukan hal yang bodoh dengan menyia-nyiakan diri kita sendiri itu ternyata memuaskan (lol). \m/
Bertemu dan berbicara dengan orang-orang yang inspiratif adalah impian. Mau sejahat Hitler atau sebaik Prof. Subroto, mereka semua itu orang yang kharismatik. Bisa membantu kita dalam memahami hidup mana yang baik yang harus diambil atau dibuang, dan mana yang buruk yang harus diambil atau dibuang.

Photo Credit: Juli Sarisetiati
Dikutip dari notes facebook Aldo Sianturi, August 29, 2009. 07:34 AM
INDONESIA, Bapak Jaya Suprana & Paulus Pangka, Aksara Records berterima kasih atas segala doa dan dukungan yang diberikan. White Shoes & The Couples Company akan mendapat penghargaan dari MURI (Musium Rekor-Dunia Indonesia) sebagai “Band Indonesia Pertama” yang menjalin kontrak kerjasama dengan merilis debut album dengan perusahaan rekaman di Amerika Serikat.
Rencananya penghargaan ini akan diserahkan secara simbolis oleh MURI bersama Menteri Pendidikan Nasional yaitu Bapak Bambang Sudibyo pada Tanggal 30 Agustus 2009, hari Minggu di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Melalui momentum ini, kami mengharapkan agar generasi Indie di Indonesia bangkit dari masa lalu dan mengukir prestasi membelah kelesuan Industri Musik dengan karya positif.
Debut album White Shoes & The Couples Company telah dirilis dan didistribusikan oleh Indie Label dari Chicago, Minty Fresh Records sejak bulan Oktober 2007. Album ini mendapat sambutan luar biasa disana. Hal ini ditunjukkan melalui berbagai resensi dari media besar dunia di Amerika Serikat seperti: Billboard, PASTE, SPIN, Esquire, Under The Radar, Pitchfork, Yahoo! Music, Amplifier, Popmatters dan Allmusicguide. Setelah sukses dengan debut album, kembali Minty Fresh mempercayakan EP Skenario Masa Muda untuk didistribusikan juga pada Oktober 2008.
Sebelumnya rilisan album perdana ini White Shoes & The Couples Company juga telah menuai penghargaan dari Allmusicguide sebagai “ The 25 Most Crustwothy Band in 2006”, “The 25 Best Band in Myspace in 2007” oleh Rolling Stone.com dan “The Most Blogworthy Band on The Planet in 2007” oleh Yahoo! Music.
Sementara ini White Shoes & The Couples Company tengah bekerja merekam lagu-lagu terbaru untuk album kedua di studio rekaman Pendulum dan Postcard bersama sound engineer Bung Dono Firman (Personil SORE) dan produser Mr. David Tarigan (A&R Director Aksara Records). Single terbaru yang berjudul “Senja Menggila” telah digilai dimana-mana, namun album penuh ini diusahakan untuk dapat dirilis di tahun 2009 oleh Aksara Records.
Take A Bow,
Aldo Sianturi
Managing Director
Aksara Records
www.twitter.com/aksararecords
Everyday I’ve found myself in an uncertainty which accompany me to keep track of my labyrinth path rather than to obtain what it supposed to be. I may be kind of person who does not always get what I want, trying so hard to get the seasonable dreamland, because of this seasonableness then falling into the lower level which next becomes something unexpected. Who is supposed to be blame on then? My early thoughts even hiding in all of their innocent faces, then correctly stumble by my foot on my own banana peels. I want my anger so much more before I swerve myself to another seasonable distraction which emphasizing me into this again and again unfinished purpose. Though they positives, but they ruin me all the time, and it tortures sometimes. I always searching for people’s suggestions before I decide by myself, it does not mean that I always be bent down on them but at least they help me in consideration. Like it was a month ago,
Ok, so you're accepted in a scholarship from India. That is AWESOME!! Congrats. Hmm.... I dunno, it is rele depends on your decision. I’ve been to India and I know the positives and the negatives about that place. However, if you want my opinion, I would suggest you to stay in Indo. That’s just my opinion, you don’t have to take it. Here's the reason. Since you have grown MOST of your life and spend the education in Indo, it’s better for you not to change anything. And if you do, it will be tough for you. It’s like a brain of a baby, it's easy to teach a language/anything to a baby because it has not grasp anything much. But it is harder to teach a fully grown man because it has already grasp much more things in his brain. Lol, you know what I mean right? Again, it's all up to you.
But I couldn’t agree with him for that time, so I ran until a small group of ideas chosen to ensure me off. Absolutely not from me at all, because I one hundred percents believing that this came down from the deepest soul that Lord sent me into. I have another reason, not from my mother who said no, brother who said depends on my willingness to struggle alone there, sister who said yes, friends which mostly said no, cousin who said 6 to 10 for the departure, academic lecturer who said no, or my newly Indian friend which I tried so hard to find her there. This is the proof that I do not always use the chance which comes to me, the proof that I consider before I execute.
Like Buda and Pest, is this the best it gets? How do I know? Is this the best it gets? How do I know? Pretty much I know that this could be the best but then I have to prove it that yes this will be. I am wondering now, how do I teach myself to be focused on when the number allowed is limited. Is it true that pessimism could be the worst way to shatter on even persistence has been built for a long time? I am properly confined to this curiousness before the blaze suggested to be forced on me. Well, three years more here is probably hard enough rather than three years more there (for a challenge seeker’s mind like I have), but it is more challenging for me if I can get through on this. The question is, if this longing is beating my heart now, then should I need to pass it away? Fight against un-patiently feeling is really the best way for me to achieve this what-it-supposed-to-be. Even I am not sure of this supposed-to-be. Because yes, I am doing a job right now, and I count the steps that I take to choose it. No matter how much time, sweat, money, and parents’ approval that I tried for this because I am taking serious on it. So how about my supposed-to-be-thing? It is still on my number one life’s priority but honestly until this time, I do not have any plan to design it into somewhat people are commonly expect. I’m not destined to be that expectation (perhaps—for this time).
Dear Friend,
Come and see what the all hype is all about on Aksara Cutting Edge Stage at Java Rockin'land 2009 (7,8,9 August 2009 at Carnaval Beach, Ancol).
We have 24 Indie Bands will perform on 3 days: White Shoes & The Couples Company, SORE, The Adams, Denial, Monkey To Millionaire, Goodnight Electric, Sajama Cut, The Sabotage, The Brandals, Efek Rumah Kaca, Dub Youth, The Borstal, Southern Beach Terror and so much more.
They will be playing their meanest riffs, the hardest breakdowns and the best singalongs plus we sell Special Band Merchandises. Its you're loss if you miss out!
You are able to check the complete line-ups, time table and order your ticket on www.javarockingland.com
We will be upset if you don't, so come and lend us some support! We are coming all this way to play for YOU and no one else. See you there!
Thanks,
Mayang Arum Anjar Rizky
TV Promotion Coordinator - Aksara Records
Prof. Subroto
Aldo Sianturi
David Tarigan.
Salah satu dari banyak hal yang gue takuti adalah, mengambil keputusan. Yak! Bukan masalah percintaan juga yaa, walaupun memutuskan pernah, diputuskan juga pernah hehe kan curcol deh mulai. Kadang gue mikir, satu-satunya alat doraemon yang paling ingin gue miliki adalah mesin waktu selain pintu ke mana saja dan kantongnya :);) (satu-satunya kok banyak?)
Waktu itu gue pernah baca di blog nya Miss Novi tentang temen gue Gerry Julian yang bilang kalo aja kita bisa minta satu permintaan ke Tuhan dan bakal dijawab eh apa itu gue lupa, pokoknya Gerry bilang dia pengen tahu kapan bokap-nyokapnya meninggal. Setelah ditanya buat apa, dia jawab, supaya dia bisa tahu dan ngerencanain kapan waktu yang tepat buat membahagiakan orangtuanya dia. Ngga heran, he is being the most influencing man for the rest of my friends.
Gue baru belajar mengenai apa yang namanya "trade off" pas gue kuliah sekarang. Dulu gue mengenalnya dengan sebutan "sacrifice". Tapi gue rasa itu kurang cocok, karena segala hal yang kita ingin dapatkan ngga hanya butuh pengorbanan, tapi juga ada banyak hal dan nilai yang ada pada diri kita atau yang semestinya bisa kita miliki tapi harus kita tukar. Loh loh apa sama ya? Hahahaha padahal gue udah mencoba untuk YES YOU ARE RIGHT tapi kok kayaknya JEDENG JEDENG agak rancu ya hehe. Ngga klimaks nih, padahal pengen ditutup dengan kosidahan permainan rebana yang berarti menandakan bahwa kalimat yang membahana pengaruhnya udah diutarakan halaaaah.
Baiklah, gue mencoba untuk kembali serius.
Gue kayak kendaraan bermotor yang ada di persimpangan jalan, terkadang kita butuh menunggu dulu lampu merahnya sampe lampu ijo udah mulai hidup. Terkadang juga kita butuh polisi pengatur lalu lintas supaya ngga terjadi tabrakan. Atau, sempetin beli peta jalan sebentar sama yang dijual abang-abang di perempatan. Semua itu dengan tujuan yang sama, supaya bisa berjalan dengan lancar. Kalo buat orang yang ngga visioner kayak gue, yang penting patokan dan jalannya ngerti dan lancar dulu deh, urusan sampe atau ngga nya ya urusan berikutnya kalo udah sampe di pengkolan manaaaaaa gitu.
Gue pernah trauma dengan apa yang namanya solat istikharah. Astafirughllah alhadzim, sebetulnya ngga jadi trauma yang mendalam karena gue belajar dari itu semua. Tapi ternyata, kali ini gue sangat membutuhkannya. Waktu itu gue mikir, kok kayaknya manusia jahat banget karena inget Tuhan di saat lagi butuh doang, apalagi yang namanya butuh jawaban. Tapi gue memang tidak memungkiri, toh jawaban dari segala jawaban itu memang ada di Tuhan. Cuma ya bukan berarti kita ngga nginget Tuhan di saat kita senang juga. Ya sudahlah, biarkan Dia yang menilai bagaimana sikap kita ke dia.
Gue selalu berdoa supaya gue bisa mengambil keputusan yang terbaik, terbaik ngga hanya buat gue, tapi juga buat orang-orang di sekitar. Doakan ya, amin ya robbal alamin.
© Mayang Rizky The Remedy by Mayang Rizky
Back to TOP