Life is getting crazier anyway.

Tuesday, 10 November 2009

"Gue lebih ingin ngadopsi anak ketimbang melahirkan anak."

Hahaha, sontak Ai kaget ketika gue mengutarakan hal itu di tengah-tengah sesi curhat pas Citta, gue, dan Meisha menginap di rumahnya setelah lelah menggerayangi rumah Lia tengah malam untuk memberinya surprise ulang tahun tiga minggu yang lalu.

Well, gue punya alasan juga untuk berkata seperti itu. Bukan karena tidak ingin memperbaiki keturunan atau pun menjaga titipan akan apa yang diberikan oleh Tuhan, tetapi lebih kepada kritisisasi dan kesadaran dalam menanggapi situasi dan kondisi terkini. Cukup ironis apabila nanti di saat gue melahirkan, gue harus menyadari bahwa anak gue tersebut harus menghadapi dunia dengan lebih sangat-teramat tegar ketimbang ibu, nenek, dan buyut-buyutnya. Ibaratnya buyut-buyut diuji dengan kehidupan feodalisme kerajaan, nenek dengan kehidupan kolonialisme penjajahan, ibu dengan kehidupan reformisme kenegaraan, anak dengan kehidupan globalisme besar-besaran, cucu dengan kehidupan yang-yah-kita-lihat-saja-nanti (makin ngawur, udah ngga tau lagi istilah apa yang bagus).

Terkadang pulang kuliah di jalan gue suka mikir sambil melihat kosong ke arah samping kanan (lebay), orang-orang di jalur jalan sebelah ngga stres apa yah harus berhadapan dengan kemacetan dua kali sehari tiap berangkat kerja sama pulang kerja? Plus sekali pergi dan keluar kantor kalo makan siangnya di luar. Deg-degan takut ada yang nyenggal-nyenggol, pas kesenggol dikit langsung bermain dan menyipitkan mata ke orang yang nyenggol, atau bahkan mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah dan makian. Begitu gue sampe rumah, orang-orang ngga pening kepala apa yah harus mendengarkan berita buruk setiap harinya di sebagian besar headline berita yang muncul tiap pagi, siang, dan petang, atau bahkan beberapa stasiun TV yang menyiarkan itu berulang-ulang tiap jam? Kasihan bokap gue, beliau mengalami hal itu saat ini. Pergi macet pulang macet begitu sampe rumah di TV beritanya bikin pening kepala.

Ketika bikin ini, kepala gue pusing. Sungguh. Tadinya gue mau ngerangkum tugas Mikroekonomi yang empat chapter itu, tapi gara-gara emak gua nyetel TV kenceng banget sampe pintu kamar gue tutup dengan galaknya terus gue idupin CD kenceng-kenceng saking puyeng sama omongan pembawa acara berita, ehh ujung-ujungnya gue keluar kamar juga terus duduk melongo depan TV sambil mengernyitkan dahi. -____-'

Sejujurnya gue tidak ingin membahas duduk permasalahannya karena pun pengetahuan gue akan dunia kehukuman tidak sebanding besar akan orang-orang itu. Tetapi bukan berarti tidak ingin mengikuti perkembangan, hanya saja keberpihakan di sini lebih kepada sisi manusiawi akan sebuah kebenaran (kok tiba-tiba gua jijik sama diri sendiri). Iya, gue entah kenapa tidak memperdulikan kasusnya lebih dalam, dahulu gue peduli ketika masih bisa dicerna sama otak, tetapi ketika udah mulai muncul pemeran pendukung baru macam Kabareskrim Susno yang akibat keceplosan tertangkap media jadi dihujat habis-habisan, Ong Yuliana, Ary Mulyadi, Ade Rahardja, bahkan Julianto yang hingga kini alis tebal terangkat serta mata sipitnya tidak kelihatan pun sudah membuat gue semakin mual-mual. Sama akan ketidaktertarikkan gue akan serial TV macam Heroes, Gossip Girl, Friends, Beverly Hills 90210, atau bahkan serial drama Korea yang membanjiri kehidupan para muda-mudi remaja pada umumnya. Intinya kayak produser sinetron, semakin diperbanyak episodenya, semakin banyak penontonnya pengen melihat bagaimana akhir cerita.

Gue sebelumnya pernah mengikuti update-an Facebook seorang aktivis muda pejuang nasionalisme yang hingga sekarang masih berkiprah dan yang waktu itu sempat hadir di kampus, tapi akhirnya harus gue remove friends karena gue merasa terganggu dengan status-statusnya yang penuh dengan kritikan terhadap pemerintah yang sebagian besar destruktif. Maka dari itu maaf Pak, saya hapus. Gue rasa media massa saat ini menjadi orang ketiga yang memiliki peran penting sebagai pemeran pendukung terbaik, karena berhasil mengantarkan penontonnya masuk ke dalam era di mana mereka bisa melihat dan menilai langsung. Dan bahkan membuat gue berpikir bahwa mereka pun telah dijadikan alat. Semakin ironis ketika gue menonton berita di TV ada sekelompok anak SD di Jawa Tengah yang melempar-lemparkan mainan buaya ke lantai dan menginjak-injaknya. Dan baru saja beberapa menit yang lalu, ada iklan layanan masyarakat mengenai penyiaran yang dibintangi oleh Kak Seto untuk menghimbau orangtua agar membimbing anaknya dalam memilih tayangan televisi. Phew.

Pada dasarnya gue tidak ingin membuat diri ini menjadi apatis hingga antipati, tetapi memang benar krisis kepercayaan saat ini menjadi masalah utama di dalam diri manusia. Bagaimana tidak, munculnya hoax-hoax yang terkadang hanya digunakan sebagai lelucon bagi para Kaskus-ers itu bisa membuat orang semakin lama semakin menjadi apatis loh. Apalagi dengan maraknya isu-isu yang dijadikan sebagai konspirasi di balik konspirasi dari pihak-pihak tertentu. Ibaratnya lo cuma bisa diam di dalam rumah karena ketika lo keluar, lo ngga tahu harus berpegang atau percaya dengan siapa atau apa.

Walaupun sedih untuk menyetujui kata-kata Pak Faisal Basri tadi bahwa beliau percaya, Kapolri dan Jaksa Agung adalah orang-orang yang baik, namun mereka harus mundur. Jujur ini sama sedihnya dengan ketika gue melihat adegan Alm. Presiden Soeharto membacakan secarik kertas di depan mikrofon pada hari terakhir dirinya menjabat sebagai presiden, gue sedih ketika ada orang yang berkorban akibat perlakuan konco-konco atau bawahannya yang tidak baik. Walaupun kesalahan itu menjadi sebagian dari kesalahan si pemimpin karena tidak berhasil menjaga perilaku anak buahnya dengan baik.

Berhubung gue tidak ingin memprovokasi orang walaupun itu memang benar bahwa jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan orang lain, haha, lebih baik kita sudahi saja pembahasan ini. Hal yang ingin ditekankan hanyalah sebuah keinginan dari dalam diri ini untuk bisa merasakan hidup yang jujur, adil, dan damai di mana hal tersebut memang sulit untuk dijangkau oleh negeri yang penuh bedebah ini seperti kata Adhie Massardi. Yang kalo di dalam Statistika itu ada Type I Error dan Type II Error-nya, di mana yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Hoek, gue semakin mual.

Udahlah woy please udahan, kami haus akan berita gembira di TV. Life is getting crazier anyway, dunia udah mau kiamat woy.

5 comments:

Alan Dermawan Wednesday, November 11, 2009 12:21:00 am  

sama may gw juga mau ngadopsi anak. tos deh

Anonymous Thursday, November 12, 2009 10:18:00 pm  

shauqie yg rada arab gt bkn??kan ank 28 juga..angkatan 2000 klo ga salah

Shirin Zahro Thursday, November 26, 2009 2:58:00 pm  

mayang, i love your blog! nice writings :)

Novroz Friday, December 04, 2009 6:59:00 am  

wow berat juga tulisannya may.

Hmm sy sih pengen punya anak sendiri tp juga pgn punya anak adopsi lebih banyak...bisa ga ya punya anak sendiri tp ga mst punya suami?? haha

Memang kl kebanyakan liat berita bisa bikin stress, sy sih cenderung liat highlightnya aja trus ganti channel deh...memang dr dulu lebih suka berita2 technologi

MAYANGO Saturday, December 05, 2009 10:02:00 am  

Alan:
Masalahnya, ada anak yang mau diadopsi sama kita ngga Lan hahaha ntar kayak di The Sims lagi.

Anonymous:
Wah iya rada arab, oh Pak Shauqie alumni 28 juga ya. Wawawa baru tahu hehe.

Kak Shirin:
Terima kasih Kak Shirin sudah mampir! Blog-nya ku-link ya Kak!

Ms. Novi:
Bisa kali Miss, kan ada teknologi bayi tabung walaupun masih kontroversial ngehehe. Eh tapi Miss serius ngga mau punya suami? Hahaha aku juga pernah berfikir seperti itu tapi entahlah kita lihat saja nanti. Iya Miss, ngga heran banyak orang bunuh diri gara-gara stres.

  © Mayang Rizky The Remedy by Mayang Rizky

Back to TOP