Think future

Thursday, 6 November 2008

Setelah dilakukan berbagai analisis, mulai 1 Desember, harga premium akan berubah menjadi Rp5.500 per liter dari yang sebelumnya Rp6.000 per liter. Sehingga kali ini yang mengalami penurunan harga adalah premium sebesar Rp500 per liter setelah pertamax juga mengalami penurunan sebelumnya dari Rp8.200 per liter menjadi Rp7.000 per liter. Harga Rp6.000 per liter adalah harga yang termurah di dunia, kata Menko Perekonomian, apabila turun menjadi Rp5.500 per liter maka harga premium di Indonesia tetap menjadi harga yang termurah di dunia.

Penurunan ini dipicu oleh dua hal, yang pertama adalah karena harga minyak dunia yang terus mengalami penurunan hingga mencapai dibawah $70 per barel. Serta tuntutan dan aspirasi dari DPR serta masyarakat Indonesia. Dengan penurunan harga ini, pemerintah mengharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6% setelah ditargetkan pada akhir tahun 2008 mencapai 6,3%.

Namun, ironisnya penurunan harga premium ini dirasa kurang dan hanya dianggap sebagai basa-basi oleh pemerintah bagi sebagian pihak. Karena sebenarnya pemerintah masih dapat menurunkan harga premium beserta BBM subsidi yang lainnya seperti solar. Karena di APBN 2009, pemerintah mencanangkan subsidi sebesar Rp57,6 triliun. Tapi rencana ini dibuat berdasarkan asumsi harga minyak yang berada pada level $80 per barel. Namun hal ini masih dijadikan pertimbangan karena harga minyak akan terus dievaluasi oleh pemerintah setiap satu bulan, jadi bisa dimungkinkan akan turun lagi. Menteri ESDM mengatakan bahwa dengan adanya tambahan Rp500 per liter dengan asumsi konsumsi 1,5 juta kilo liter maka akan terdapat tambahan subsidi sebesar Rp750 miliar.

Semenjak harga minyak dunia terus naik hingga mencapai $140 per barel pada beberapa waktu lalu dan hingga sekarang mengalami terus penurunan, kita mengambil kebijakan dengan menaruh subsidi pada sektor minyak di dalam APBN. Padahal, apabila kita mengalihkan subsidi ke sektor yang lebih strategis, tentu akan menghasilkan lebih banyak manfaat. Seperti contohnya sektor pendidikan dan kesehatan, di mana masyarakat Indonesia masih banyak yang kesulitan dalam dua hal tersebut. Memang minyak tanah pada saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Tetapi dengan tidak adanya subsidi di sektor BBM akan mengajarkan masyarakat untuk hidup hemat energi, menurunkan ketergantungan akan BBM, kreatif dengan menciptakan energi alternatif lain yang lebih bersahabat dan tahan lama, penurunan dampak kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan bakar, penurunan jumlah kendaraan yang pada saat ini semakin membludak dan mengakibatkan kemacetan di mana-mana, penurunan dampak polusi udara yang mengganggu kesehatan, dan lain-lain. Toh yang lebih banyak menggunakan subsidi adalah masyarakat menengah ke atas.

Bukankah akan lebih baik bila subsidi tersebut dialihkan ke hal-hal seperti pendidikan dan kesehatan. Di mana seperti kita lihat sekarang bahwa pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal dan sulit dijangkau untuk kalangan menengah ke bawah, padahal hal ini diperlukan bagi keberlangsungan generasi mendatang yang lebih baik.

Pada intinya, setiap keputusan atau rencana yang dibuat adalah tidak hanya untuk mengatasi kondisi yang terjadi pada saat ini, tetapi juga memikirkan keberlangsungan di masa depan.

Karena untuk mencapai suatu hasil yang maksimal tidak harus dengan tindakan yang ekstrim dan sekarang ini juga, akan lebih baik bila dimulai sedikit demi sedikit, meskipun pada akhirnya bukan kita yang menentukan. Setidaknya kita dapat membuka jalan bagi generasi mendatang untuk meneruskan cita-cita tersebut.

3 comments:

Aswino Friday, November 07, 2008 9:38:00 pm  

(first of all gue mau minta maaf dulu soalnya comment gue panjang. haha :D)

well, paling murah di dunia. tapi kan ekonomi negara kita mengatakan itu ga murah May.

pendapatan per kapita mereka jauh di atas Indonesia, jelas mereka pikir Rp 5.500,00 itu murah bagi mereka. tapi bagi kita itu masih memberatkan.

artinya, kita boleh membandingkan negara kita sama negara lain, tapi hal2 lain juga perlu pengkajian ulang.

contohnya tarif parkir yg (pastinya) naik lagi. masa Fauzi Bowo malah bandingin sama tarif parkir di Singapore. kan ga relevan banget.

masalahnya, okelah di Spore tarif parkir mahal, tapi itu didukung sama MRT yg memadai buat orang banyak, makanya pas. lah di Jakarta? boro2. palingan dikorupsi lagi tuh.

MAYANG! Saturday, November 08, 2008 8:28:00 pm  

ngga papa, gue senang dengan kekritisan lo. thanks swin.

iya itu murah dengan asumsi perbandingan harga di negara lain bukan dengan pendapatan per kapita.

emang setiap keputusan yang diambil mesti ngeliat dari sisi lain juga apakah dia cocok, ada alternatif lain, atau menguntungkan/merugikan orang banyak, dsb.

kalo masalah tarif parkir dinaikin bisa jadi karena ini usaha lain pemda jakarta (selain busway) untuk mengingatkan wahai masyarakat agar membudidayakan menggunakan fasilitas umum ketimbang kendaraan pribadi yang semakin meresahkan jumlahnya. sayangnya memang fasilitas di sini belum dibenerin, harusnya itu dulu yg jd prioritas.

emang salah kalo misalnya dibandingin dengan singapur yang fasilitasnya lebih memadai, tetapi ngga ada salahnya juga untuk menjadikan singapur sebagai inspirasi. siapa tahu ntar ada MRT beneran ngga cuma tiangnya doang yang skrg udah dibongkar lagi hahahaha.

yaaah kalo masalah korupsi itu udah menyangkut masalah iman, kesempatan & rasa nasionalisme yg rendah. susah sih kalo ngga diajarin sejak dini. yg penting skrg kita tahu klo itu ngga baik dan jgn sampe kita & anak cucu kita melakukan itu juga swin.

anyway swin, td di berita blg setiap tahun jakarta amblas setengah cm. uwow.

Aswino Saturday, November 08, 2008 10:24:00 pm  

oh gtu ya? gue pikir berhubungan dgn pendapatan per kapita. gue pikir dengan ppk naik, kesejahteraan mereka jg naik, dan mereka ga terbebani dgn harga segitu. hehe ah pusing gue nulisnya gimana.

nah itu dia, harusnya tuh diberesin dulu tuh kendaraan umumnya! tp skrg gue udah memulai penggunaan kendaraan umum kok May. biar capek jg yah dinikmatin aja deh. :)

hah? serius tuh beritanya? waduh nanti gimana dong kalo banjir pasti tambah parah dong ya. ckck Jakartaku. menyedihkan sekali nasibmu.

  © Mayang Rizky The Remedy by Mayang Rizky

Back to TOP