Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts

Couldn't Think What's the Title That Fits In

Thursday, 18 August 2011

Do you know that as the husband and wife grow older, they lose their ability to hear each other? So what’s the point of marriage? If I may assume that what’s the point of marriage if you know that someday you will lose your ability to hear each other, then it won’t be different with what’s the point of living a life if you know that in the long run we’re all dead? Damn you marriage, damn you. And what a poor you are, life.

No need to act like a fucking wise person on blaming me cause am cursing this-oh-holy-life. Human got’s to have a sin and we’re only just a human, bloody ass. Let it becomes my own sacred problem with this fucking god. Is it a sin, of having no ‘g’ capital letter in it?

Your passion of sex, oh poor you are people who is making a marriage just for the sake of satisfying your freaking biological needs and your pride on achieving the most handsome, beautiful, richest, and glorious person in your own little width of life, or your oh-beautiful vested interest to hold god’s hand by having a heavenly veiled wife or maybe a signed forehead guy with a hanging pants. Or maybe a girl with a cross over her neck and a guy who has his Buddha or Gandhi books below his sheets. Do you feel such a heaven on that—uh? Congratulations if it is yes, beers!

Have you realized that satisfaction has its depreciation? That even the utility of your spouse—in doing sex—eventually will be degraded, and not so respectively similar with your passion which always sues you to have it more and more. How long you’ve been trying, to connect a dilemma between a monotonicity and a non-monotonicity? Hard, isn’t it?

I’ll raise my hand when someone asks who the person is over the earth having a difficulty to trust people especially regarding his faithfulness. Even when it comes to my friend’s case, there’s always my sincere pray deep down beyond every suggestion to them. There’s always my sincere pray deep down beyond my excitement on having a merry atmosphere and nice food in every wedding invitation I’ve attended. I’d blow my pray to them. And you may pray for me, a poor me, of being a skeptic on any fucking such a hell commitment matters in a relationship. But we may fall in love without being pro to the marriage, right?

Forgive me on having question marks too much in each paragraph. It’s just an effort from me to ensure that you’ve been trapped for so long in a labyrinth full of questions. That you’ve been considering before turning left, right, straight up, or step down. That you’ve been thinking before doing. I wanted to say that you’ve been researching before deciding a marriage, but it has been remained implicit honestly. Obviously just made it appears in an explicit way. Oh—forgive me, of having a lot of sorrows and mistakes.

This express is my own. Feel free to be agreed or not. But in the end, you can’t be such an egoist long after you have a family. Making your children as the reason behind your deep efforts to keep yourself in that marriage while you feel uncomfortable, that’s just fucking hurt for that children. And leaving your children outta there, letting them become beggars in certain traffic lights on the street, that’s also a form of creating slavery over your fucking passion of getting, marrying, and having an allowed and a routined sex with your past achievement, your ‘old desired girlfriend/boyfriend’. So go and get the answer of your questions.

Read more...

Inconsistency pt. II

Saturday, 16 May 2009

Akhirnya, gue menonton juga Angels & Demons setelah berencana untuk menahannya hingga gue selese UAS. Tapi sungguh ku tak bisa...

Well, gue ngga membaca bukunya, sama seperti ketidakmampuan gue untuk membaca buku dengan level of imagination yang terlalu tinggi untuk orang-orang seperti gue. Iya, orang-orang yang lebih menikmati buku romantis dan historis semacam Nicholas Sparks atau Jane Austen punya. Gue sama sekali tidak bisa membaca buku karya orang-orang jenius semacam JK Rowling, Stephanie Meyer, atau Dan Brown. Bahkan penulis sekaliber Indonesia Andrea Hirata pun ngga pernah gue baca! Hahaha. Yeah, whatever it'll be said, I enjoy it.

Jadi gue lebih memilih untuk menonton filmnya, walau orang-orang selalu beranggapan apa yg digambarkan sebuah film yang diangkat dari sebuah buku sangatlah jauh hasilnya, seperti gue yg lebih suka versi bukunya A Walk to Remember ketimbang filmnya, tapi buktinya saking tergila-gilanya sama tuh buku, gue nonton sampe belasan kali tuh filmnya.

Tadi gue nonton sama Kak Galuh, gara-gara gue ngajak dia nonton setelah kita ngobrol tentang Freemason. Yang ingin gue pertanyakan di sini adalah, siapa sih Dan Brown? Tadinya gue kagum dengan karakter fiktif Robert Langdon, tapi ternyata gue lebih kagum dengan penciptanya, Dan Brown. Mengapa ia sejenius itu? Hahaha sama seperti reaksi gue kalo abis nonton film-filmnya Harry Potter. Mengapa JK Rowling sejenius itu? Well, gue ingin membuka sebuah kejujuran dari lubuk hati yang terdalam, Anda boleh tertawa, boleh jungkir balik, maupun kayang atau lilin. Karena gue belum pernah nonton Twilight! Huahahahahahaha. Tertawalah, karena menurut gue itu hal yang wajar kalo gue belum nonton, tapi setiap gue bilang gitu sama orang, kenapa orang-orang selalu tertawa? Cih. Hahahaha.

Alasan kenapa gue tidak memberanikan diri untuk menonton Twilight adalah, karena gue tau, ujung-ujungnya gue bakal addicted dan tergila-gila dengan karakter Edward Cullen! Hahahaha, tattuuuuuutttt. Jadi hingga sekarang gue tidak mau menonton itu, cukup sudah gue tergila-gila dengan karakter Landon Carter yang awalnya menyebalkan tapi ujung-ujungnya gue kagum karena kesetiaannya. Apalagi Edward Cullen yang behavior-nya sangat membuat setiap wanita jatuh hati saking tulusnya ia dengan Bella Swan. Dan untungnya, gue sama sekali tidak penasaran dengan Twilight. Tapi, mendengar si Dakota Fanning bakal main di yg New Moon, membuat penasaran gue muncul supaya nonton. Akh!

Oh iya mengenai Angels & Demons the movie, memang jauh beda ya dengan Da Vinci Code yang sangat kelihatan menentang Gereja. Kalau di sini, terlihat sekali pro-Gereja nya. Dan gue sangat kagum dengan apa yang dikatakan oleh si Pemimpin Rapat bahwa "Setiap agama memiliki kekurangan." WOW!

Yah, yang gue dapatkan adalah, tujuan awal dari para Illuminati sebenarnya memang untuk kebaikan, di mana ilmu pengetahuan itu ada dan akan terus ada walaupun tidak selalu berjalan berdampingan dengan agama. Karena ilmu pengetahuan bekerja untuk selalu mendapatkan akar dari mana segala sesuatu di dunia ini tercipta, namun agama lebih mengajak kita semua untuk menghargai apa yang telah tercipta. Dan hal ini menyebabkan masalah yang akhirnya berlarut-larut hingga sekarang dikarenakan kondisi pada saat itu yang memaksa ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama. Kita tidak memungkiri bahwa seorang Galileo, menemukan teori heliosentris tentu untuk kebaikan akan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun karena bertentangan dengan apa yang selama ini telah didoktrin oleh Gereja, maka semua yang berhubungan dengan sains pada saat itu dilarang. Dan itulah yang menyebabkan para Illuminati memberontak dan sekarang, mencoba untuk membalas dendamnya. Patrick (McGregor) benar-benar seorang illmunati yang menunjukkan bahwa kejahatan tidak selamanya harus ditunjukkan dengan kekerasan. Well, mungkin itu yang ingin disampaikan oleh seorang Dan Brown.

Gue pertama kali mendengar Illuminati dari internet, di mana gue mendapat email dari entah siapa yang mengirimkan info mengenai Freemason. Awalnya gue pikir itu cuma hoax atau apalah itu namanya yang kaskus punya. Karena gue tidak terlalu mengikuti kaskus, jadi gue cuma baca-baca hal yang menarik-menarik aja. Dan sungguh hal itu masih membuat gue percaya tidak percaya mengenai Freemason masa kini. Karena ternyata banyak orang-orang hebat dari masa lampau yang berjasa membuat dunia ini berjalan lebih baik merupakan duta Freemason. Termasuk Catherine the Great, wow. Lalu gue pun mencari-cari info, dan makin lama hal ini mengaitkan kita mengenai masalah yang tidak pernah kunjung selesai, Yahudi dan Islam.

Hoahm. Gue ngantuk, kita lanjutin kapan-kapan aja ya pembahasannya. Haha

Read more...

Syekh Pujiono

Tuesday, 28 October 2008

Berawal dari sebuah milis. Yang pada akhirnya memacu adrenalin untuk memberikan tanggapan mengenai kasus seorang kyai dengan profesinya sebagai pengusaha yang berniat akan menikahi dua orang perempuan yang berumur 7 dan 9 tahun setelah memperistri seorang perempuan berumur 12 tahun.

Dalam hal ini saya tidak mengatasnamakan sebuah agama dalam berpendapat. Bukan karena saya mengabaikan agama yang saya anut, tetapi karena selain agama saya terlalu suci untuk dicampuradukkan ke dalam masalah ini, tetapi juga karena saya sangat menghargai perbedaan dan keanekaragaman serta kemerdekaan dalam beragama. Dan bagaimanapun juga, setiap agama mengajarkan kita untuk memahami segala perbedaan yang ada. Maka dari itu saya akan berpendapat dari sisi sebagai seorang manusia khususnya wanita yang hidup di negara yang bernama Indonesia.

Tanggapan pertama yang terlintas adalah sebuah kalimat setiap orang memang memiliki hak untuk menata kehidupannya sesuai dengan yang diinginkannya. Dan memang pula setiap manusia berhak untuk menentukan jalan kehidupannya masing-masing khususnya dalam urusan berumah tangga apakah akan menikahi seseorang berumur 20 tahun atau menikahi seseorang berumur 5 tahun sekalipun, atau bahkan pria menikahi pria. Tetapi dalam hal ini ketika kita hidup di sebuah negara yang mengenal sebuah peribahasa yang indah yaitu ”Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” akan mengingatkan kita pada segala aturan, norma, dan kebiasaan yang ada pada masyarakat yang apabila dilanggar akan mengakibatkan gejolak-gejolak positif maupun negatif. Dalam hal ini sikap pro dan kontra. Maka tidak heran jika banyak masyarakat yang memberikan tanggapan terhadap kasus ini. Karena selain melanggar kebiasaan yang ada pada masyarakat, kasus ini juga sebenarnya melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam undang-undang perkawinan yang menyebutkan bahwa batas usia pria maupun wanita yang menikah adalah minimal berusia 16 tahun. Jelas peraturan ini menyimpulkan bahwa tidak ada pernikahan yang diakui oleh negara apabila mempelai berusia di bawah 16 tahun. Apalagi dengan isu poligami yang saat ini masih menjadi hal yang kontroversial bagi(sebagian) masyarakat. Mengenai alasan yang dikemukakan oleh kyai tersebut tentang pernikahannya dengan gadis di bawah umur, ia menuturkan bahwa ia tidak sudi menikah dengan gadis yang sudah kuliah (16 tahun ke atas) karena pasti kelakuannya sudah bejat. Ya, tidak apa-apa kalau memang persepsi yang ada di matanya bahwa gadis yang sudah kuliah a.k.a 16 tahun ke atas adalah kelakuannya sudah bejat, tetapi menurut pandangan saya, setiap manusia itu berbeda-beda tidak bisa digeneralisasikan sebagai satu kesimpulan umum apalagi menyangkut sifat dan kelakuan.

Sekali lagi, saya sangat menghargai perbedaan dan dalam hal ini pula saya sangat menghargai persepsi yang ada di matanya karena(pastinya) ia adalah manusia dan setiap manusia pasti mempunyai pemikiran yang berbeda. Untuk itu, mari kita lihat dari sisi psikologis perkembangan anak.

Perkembangan anak di usia remaja yang sudah menikah pastinya akan memiliki perbedaan dengan perkembangan anak di usia remaja tetapi belum menikah. Misalnya dalam hal pergaulan. Setiap manusia yang masih dalam batas usia dapat disebut sebagai seorang anak-anak, pasti memiliki hak dan kesempatannya untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Ketika anak yang sudah menikah di bawah umur dari yang ditetapkan ini bermain dengan teman sebayanya, akan menimbulkan rasa saling ketidaknyamanan dan kejanggalan di antara mereka. Lantas apakah ia harus bergaul dengan ibu-ibu yang notabene dalam hal ini memiliki kesamaan status dengannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Jadi, cobalah untuk berfikir panjang mengenai kasus ini, karena hal ini tentu akan mengakibatkan berbagai efek samping yang tidak hanya mengganggu kestabilan perkembangan si anak tetapi juga terhadap kemaslahatan sebuah keluarga yang akan dibangunnya.

Pada intinya, semua hal pasti memiliki waktu yang lebih tepat.

Read more...

  © Mayang Rizky The Remedy by Mayang Rizky

Back to TOP